Home » » Cerita Dewasa Ibu Dosen

Cerita Dewasa Ibu Dosen

Written By Novita Retnaningtyas on Wednesday, October 30, 2013 | 3:03 AM

Cerita Dewasa Ibu Dosen - Aku adalah mahasiswa arsitektur tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi swasta, dan sedang menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Beruntung, aku kebagian seorang ibu dosen yang sangat cantik, cerdas dan asyik. Namanya Rani, umur 30 tahun. 

Cukup sulit untuk menggambarkan kejelitaan sang ibu yang juga bersuami seorang dosen yang kebetulan adalah favorit anak-anak karena moderat dan sangat akomodatif. Singkat kata banyak teman-temanku yang sedikit iri mengetahui aku kebagian pembimbing Ibu Rani. 

“Dasar lu… enak amat kebagian ibu yang cantik jelita…” 
Aku hanya tersenyum kecil. Proses asistensi dengan Ibu Rani sangat mengasyikan, sebab selain beliau berwawasan luas, aku juga disuguhkan kemolekan tubuh dan wajah beliau.

Setiap asistensi membawa kami berdua semakin akrab. Bahkan suatu saat, aku membawakan beberapa kuntum bunga aster yang kutahu sangat disukainya.
“Kamu mencoba merayu Ibu, Rez?” ucapnya sambil tersenyum.
Aku ingat wajahku waktu itu langsung merah dan untuk menghilangkan grogiku, aku langsung menggelar gambar dan bertanya sana-sini. Tapi tak urung kuperhatikan ada binar bahagia di mata beliau. 

Setelah kejadian itu setiap kali asitensi aku sering mendapati beliau sedang menatapku dengan penuh arti, beliau makin sering curhat tentang berbagai hal. Dari masalah di kantor dosen hingga anak tunggalnya yang baru saja mengeluarkan kata pertamanya. Sesungguhnya aku menyukai perkembangan ini namun tak ada satu pun pikiran aneh di benakku karena hormat kepada beliau. 

Hingga pada suatu malam aku asistensi sedikit larut malam dan beliau masih ada di kantor pukul 8 malam itu. Yang pertama terlihat adalah mata beliau yang sedikit merah dan sembab. 
“Wah, saat yang buruk nih”, pikirku. 
Tapi dia menunjuk ke kursi dan sedikit tersenyum jadi kupikir tak apa-apa bila kulanjutkan. Setelah segala proses asistensi berakhir aku memberanikan diri bertanya. 
“Ada apa Bu? Kok kelihatan agak sedih?” 

Kelam menyelimuti lagi wajahnya meski berusaha disembunyikannya dengan senyum manisnya. 
“Ah biasalah Rez, masalah.” 
Ya sudah kalau begitu aku segera beranjak. Dia terdiam lama dan saat aku telah mencapai pintu, barulah… 
“Kaum Pria memang selalu egois ya Reza?” 

Aku berbalik dan setelah berpikir cepat kututup kembali pintu dan kembali duduk dan bertanya hati-hati. 
“Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berkata begitu? Sebab setahu saya perempuan memang selalu berkata begitu, tapi saya tidak sependapat karena certain individual punya ego-nya sendiri-sendiri, dan tidak bisa digolongkan dalam suatu stereotype tertentu.” 

Matanya mulai hidup dan kami beradu argumen panjang tentang subyek tersebut dan ujung-ujungnya terbukalah rahasia perkawinannya yang selama ini mereka sembunyikan. Iya, bahwa pasangan tersebut kelihatan harmonis oleh kami mahasiswa, mereka kaya raya, keduanya berparas good looking, dan berbagai hal lain yang bisa membuat pasangan lain iri melihat keserasian mereka. 

Namun semua itu menutupi sebuah masalah mendasar bahwa tidak ada cinta diantara mereka. Mereka berdua dijodohkan oleh orang tua mereka yang konservatif dan selama ini keduanya hidup dalam kepalsuan. Hal ini diperburuk oleh perlakuan kasar Pak Indra suaminya di rumah terhadap Bu Rani. Singkat kata beliau sambil terisak menumpahkan isi hatinya malam itu dan itu semua membuat dia sedikit lega. 

Kami memutuskan untuk jalan malam itu, ke Lembang dan beliau memberi kehormatan bagiku dengan ikut ke sedan milikku. Sedikit gugup kubukakan pintu untuknya dan tergesa masuk lalu mengendarai mobil dengan ekstra hati-hati. 

Dalam perjalanan kami lebih banyak diam sambil menikmati musik yang mengalun lembut lewat stereo. Kucoba sedikit bercanda dan menghangatkan suasana dan nampaknya lumayan berhasil karena beliau bahkan sudah bisa tertawa terbahak-bahak sekarang. 

“Kamu pasti sudah punya pacar ya Reza?” 
“Eh eh eh”, aku gelagapan. 
Iya sih emang, bahkan ada beberapa, namun tentu saja aku tak akan mengakui hal tersebut di depannya.
“Nggak kok Bu… mana laku aku, Bu…” balasku sambil tersenyum lebar. 
“Huuu, bohong!” teriaknya sambil dicubitnya lengan kiriku. 
“Cowok kayak kamu pasti playboy deh… ngaku aja!” 
Aku tidak bisa menjawab, kepalaku masih dipenuhi fakta bahwa beliau baru saja mencubit lenganku. Ugh, alangkah berdebar dadaku dibuatnya. Beda bila teman wanitaku yang lain yang mencubit. 

Larut malam telah tiba dan sudah waktunya beliau kuantar pulang setelah menikmati jagung bakar dan bandrek berdua di Lembang. Daerah Dago Pakar tujuannya dan saat itu sudah jam satu malam ketika kami berdua mencapai gerbang rumah beliau yang eksotik. 

“Mau nggak kamu mampir ke rumahku dulu, Rez?” ajaknya. 
“Loh apa kata Bapak entar Bu?” tanyaku. 
“Ah Bapak lagi ke Kupang kok, penelitian.” 
Aku ragu namun senyum manisnya membuatku mengiyakannya. Aku ditarik manja olehnya ke ruang tamu.
“Duh ada apa ini?” pikirku.

Sesampainya di dalam, 
“Sst… pelan-pelan ya… Detty pasti lagi lelap.” 
Kami masuk ke kamar anaknya dan aku melihat dia mengecup kening putrinya itu pelan. Setelah itu kami ke ruang keluarga lalu mengobrol lama di sana. Beliau menawarkan segelas orange juice. 
“Aduh, apa yang harus aku lakukan”, pikirku. 
Cerita Dewasa Ibu Dosen

Entah setan mana yang merasuk diriku ketika beliau hendak duduk kembali di karpet, aku merangkul tubuhnya dan membawanya ke pangkuanku. Beliau hanya terdiam sejenak. 
“Kita telah sama-sama dewasa dan tahu kemana ini menuju bukan?” 
Aku tak menjawab hanya mulai membetulkan uraian rambut beliau yang jatuh tergerai dan membawa tubuh moleknya semakin erat ke dalam pelukanku.

“Reza sangat sayang dan hormat pada Ibu, Reza tak akan berbuat macam-macam.” bisikku di telinganya.
Ironisnya saat itu sesuatu mendesakku untuk mengecup lembut cuping telinga dan mengendus leher hingga ke belakang kupingnya. Kulihat sepintas beliau menutup kelopak matanya dan mendesah lembut. 
“Kau tahu aku telah lama tidak merasa seperti ini Rez…” 

Kebandelanku meruyak dan aku mulai menelusuri wajah beliau dengan bibir dan lidahku dengan sangat lembut dan perlahan. Setiap sentuhannya membuat beliau merangkul punggungku semakin erat. Kedua tanganku mulai nakal merambah ke berbagai tempat di tubuh beliau yang mulus wangi dan terawat.

“Tunggu ya Rez… ibu akan bebersih dulu.” 
Ugh apa yang terjadi, aku tersadar. Saat beliau masuk ke dalam, tanpa pikir panjang aku segara berlari ke mobil dan menjauh dari rumah Ibu Rani dosenku, sebelum segalanya terjadi. Aku terlalu menghormatinya, berat bagiku untuk mengkhianati kepercayaan yang telah beliau berikan juga suaminya. 

Sekilas kulihat wajah ayu beliau mengintip lewat tirai jendela namun kutegaskan hatiku untuk memacu mobil dan melesat ke rumah Tina. Sepanjang perjalanan hasrat yang telah terbangun dalam diriku memperlihatkan pengaruhnya. Aku tak bisa konsentrasi, segala rambu kuterjang dan hanya dewi fortuna yang bisa menyebabkan aku sampai dengan selamat ke pavilyun Tina. 

Tina adalah seorang gadis yang aduhai seksi dan menggairahkan, pacar temanku. Namun sejak dulu dia telah mengakui kalau Tina menyukaiku. Bahkan dia telah beberapa kali berhasil memaksa untuk bercumbu denganku. Hal yang kupikir tak ada salahnya sebagai suatu pelatihan buatku. 

Aku mengetuk pintu kamar paviliunnya tanpa jawaban, kubuka segera dan Tina sedang berjalan ke arahku,
“Sendirian?” tanyaku. 
Tina hanya mengangguk dan tanpa banyak kata, langsung kupagut bibirnya dengan bernafsu.
“Kenapa Rez?” tanya Tina di sela-sela ciuman kami.
Aku tak menjawab dan kuciumi dengan buas leher Tina, hingga dia gelagapan dan menjerit lirih. 

Tangan kananku membanting pintu sementara tangan kiriku dengan cekatan mendekap Tina makin erat dalam pelukanku. “Brak!” kurengkuh Tina, kuangkat dan kugendong ke arah kasur. 
“Ugh buas sekali kamu Rez…” Sebuah senyum aneh menghiasi wajah Tina yang jelita. 

Kurebahkan Tina dan kembali kami berpagutan dalam adegan erotis yang liar. Aku bergeser ke bawah dan kutelusuri kaki Tina yang jenjang dengan bibirku dan kufokuskan pada bagian paha dalamnya. Tina hanya mengerang keenakan. 

Kugigit-gigit kecil paha yang putih dan mulus itu sambil tanganku tak henti meremas-remas payudaranya yang ranum. Dengan sekali tarik, piyama yang dikenakannya terlepas dan kulemparkan ke lantai, sementara aku bergerak menindih Tina. 

Kami saling melucuti hingga tak ada sehelai benang pun yang tersisa. 
“Reza ahhh… Reza…” Tina terus berbisik lirih ketika kukuakkan kedua kakinya dan aku menuju kewanitaannya yang membukit menantang. 

Kurekahkan vaginanya. Bentuknya begitu menantang sehingga entah kenapa aku langsung menyukainya. Kuhirup kewanitaan Tina dengan keras dan lidahku mulai menelusuri pinggiran labia minora-nya yang telah basah oleh cairan putih bening menggairahkan. 

Kubuka kedua labia-nya dengan jemariku dan kususupkan lidahku pelan diantaranya menyentuh klitorisnya yang telah membesar dan kemerahan. 
“Aahh…” Tina menjerit tertahan, sensasinya begitu menggelora membangkitkan semangatku. 

Detik itu juga aku memutuskan untuk melepas status keperjakaanku. Sejenak pikiranku melambung pada Ibu Rani, ah apa yang terjadi besok? Kubuang jauh-jauh perasaan itu dan kupusatkan perhatianku pada gadis cantik molek yang terbaring pasrah dan menantang di hadapanku ini. 

Tina pun okelah. Malam ini aku akan bercinta dengannya. Dengan ujung lidahku kejilati kewanitaan Tina hingga ia melenguh keras. Lama, aku bermain dengan berbagai teknik yang kupelajari dari buku. Benar kata orang tua, membaca itu baik untuk menambah pengetahuan. 

Kuhirup semua cairan yang keluar darinya dan semakin dalam aku menyusupkan lidahku menjelajahi permukaan yang lembut itu semakin keras lenguhan yang terdengar dari bibir Tina. Aku naik perlahan dan kuciumi bagian bawah payudaranya yang membulat tegak menantang.

Lidahku menjelajahi permukaan beledu itu dengan penuh perasaan hingga sampai ke puting payudaranya yang kecoklatan. Aku berhenti, kupandangi lama hingga Tina berteriak penasaran, 
“Ayo Rez… tunggu apa lagi sayang.” 

Aku berpaling ke atas, di hadapanku kini wajah putih yang kemerahan sambil menggigit bibir bawahnya karena tak dapat menahan gejolak di dadanya. Pemandangan yang jarang kudapat pikirku. Tanganku meraih ke samping, kusentuh pelan putingnya yang berdiri menggairahkan dengan telunjukku. 
“Aaah Rez… jangan bikin aku gila, please Rez…” 

Dengan gerakan mendadak, aku melahap puting tersebut mempermainkan, serta memilinnya dengan lidahku. Tina menjerit kesenangan. Kebahagian melandanya hingga ia maju dan hendak merengkuh badanku. 
“Eit, tunggu dulu, jangan terlalu cepat sayang”, aku menjauh.

Nafas Tina yang memburu dan keringat mengucur deras dari pori-porinya cukup kurasa. Aku bangkit dan pergi ke dapur kecil minum segelas air dingin. 
“Reza… jahaat…” kudengar seruannya. 

Saat aku balik, kulihat tangannya tak henti merangsang kewanitaanya. Kutepis tangannya.
“Sini… biar aku…” 
Aku kembali ke arah wajahnya dan kupagut bibirnya dengan semangat menggebu-gebu. Kuraih tubuh mungilnya dalam pelukanku dan kutindih pinggulnya dengan badanku. 
“Uugh…” dia merintih di balik ciuman kami. 

Kedua bibir kami saling melumat dan menggigit dengan lincahnya, seolah saling berlomba. Birahi dan berbagai gejolak perasaan mendesak sangat dahsyat. Sangat intensif menggedor-gedor seluruh syaraf kami untuk saling merangsang dan memuaskan sang lawan. 

Kejantananku minta perhatian permukaannya penuh dengan guratan urat yang sangat sensitif. Aku bimbang sejenak namun kubulatkan tekadku dan dengan segera menjauh dari Tina. Tanpa disuruh lagi Tina meregangkan pahanya dan menyambut kesediaanku dengan segenap hati.

Sementara aku menyiapkan batang kemaluanku dan membimbingnya menuju ke pasangannya yang telah lumer licin oleh cairan kewanitaannya. Sensasi yang saat itu kurasakan sangat mendebarkan, saat-saat pertamaku. Gigitan bibir bawah Tina menunjukkan ketidaksabarannya dan dengan kedua betisnya dia mendesak pinggulku untuk bergerak maju ke depan. Akhirnya keduanya menempel. 

Kubelai-belaikan kepala kejantananku ke klitorisnya dan Tina meraung. Kudesak ke depan perlahan. Kusibakkan dengan kedua jemariku sambil pinggulku mendesak lagi dengan lembut namun mantap. 

Tina membelalak saat batang kemaluanku ada di antara celah vaginanya. Sambil matanya mendelik, menahan nafas dan menggigit bibir bawahnya, Tina membimbing dengan memegang batang kemaluanku, 
“Hmm… Rez? jangan ragu sayang…” 

Dengan mantap aku menghentakkan pinggulku ke depan agar Tina menjerit. Sepertiganya telah amblas ke dalam. Hangat, basah, dan ketat. Sementara air mata Tina mengintip dari ujung matanya. 
“Kenapa sayang?” tanyaku. 
“Nggak pa-pa Rez… terusin aja sayang… Aku adalah milikmu” 
“Sungguh…?” 

Pastilah mengharukan bagi gadis manapun meski sebandel Tina, apabila kehilangan keperawanannya. Maka untuk menenangkannya aku memeluk tubuhnya, proses itu membuat kemaluanku masuk semakin dalam. Dia mendelik keenakan, matanya merem melek dan bibirnya tak henti mendesah, 
“Ugh nikmatnya sayang…” 

Batang kemaluanku menghujam deras ke dalam diri Tina dan setiap kali aku menggerakkan pinggulku sekujur tubuh Tina menggelinjang keras. Sesekali kutarik dan ulur. Tina menjerit keras sekali dan kubungkam dengan ciumanku, takut ketahuan ibu kost-nya bisa mampus kami. 

Aku tak menyangka sedemikian ketatnya kewanitaan Tina, kemaluanku digenggam oleh vaginanya yang berkedut-kedut memberikan rasa nikmat yang tak terkira. Hangat, basah menggairahkan, tulang-tulangku seakan hendak copot. Perasaan ini rupanya yang sangat diimpikan berjuta pria. 

“Eh… Tina sayang… kasihan kau, kelihatan sangat menderita, meski aku tahu dia sangat menikmatinya”. 
Wajahnya bergantian mengerenyit dan membelalak hingga akhirnya telah cukup dalam. Tina merintih dan membisikkan kata-kata sayang di telingaku. 

Aku mendenyutkan kemaluanku dan menggerakkannya, bersentuhan dengan hampir seluruh permukaan dalam rahimnya. Berbagai tonjolan yang ada di dalam lubang kemaluannya kutekan dengan kemaluanku, hingga Tina akan menjerit lagi, namun segera kubungkam lagi dengan ciuman ganas pada bibirnya. 

Kutindih dia, kutekan badannya hingga melesak ke dalam kasur dan kusetubuhi dirinya dengan nafsu. Dengan mantap dan terkendali aku menaikkan pinggulku hingga kepala kemaluanku nyaris tersembul keluar dan segera kutekan lagi, pergesekan itu luar biasa nikmatnya. 

Gadis seksi itu merem melek keenakan. Pinggulnya yang montok itu kuraih dan kukendalikan jalannya pertempuran hingga ketika sesuatu yang hangat mengikuti kontraksi hebat pada otot-otot kewanitaannya meremas-remas batang kemaluanku, serta ditingkahi bulu mata Tina yang bergetar cepat mendahului aroma orgasme yang sedang menjelangnya. Aku pernah membaca hal ini. 

“Tina sayang… jangan dulu ya sayang ya…”
“Aku… nggak tahan Reeez…” 
“Cup cup… kalem sayang…” kukecup lembut matanya, bibirnya, hidungnya, dan keningnya. 
Tina mereda, aku berhenti.

“Reza… kamu tega ih…” Tina cemberut sambil menarik-narik bulu dadaku. 
“Sshhh sabar sayang, entar kalo udah meledak pasti nikmat deh… minum dulu yuk sayang…” 

Aku menarik keluar batang kemaluanku, ia memelukku dengan kencang hingga terasa sakit menahan sensasi luar biasa yang barusan dia rasakan. Sembari minum aku menarik nafas panjang dan meredakan pula gejolak nafsuku, aku mau yang pertama ini jadi indah untuk kami berdua. 

Sial, ingatanku kembali ke Ibu Rani. Apa yang sekarang dia lakukan? Ah urusan besok sajalah. Dengan melompat aku merambat naik lagi ke tubuh Tina yang sedang tersenyum nakal.
“Minum sayang…” dia memberengut dan minum dengan cepat. 
“Ayo Reza… jangan jahat dong…” 

Dengan satu gerakan cepat aku membuka kedua kakinya seraya membelainya dan meletakkan kemaluanku ke vaginanya. Cairan putih yang kental terlihat meleleh keluar. Kusibakkan kewanitaannya, dan dengan cepat kuhujamkan batang kemaluanku ke dalamnya dan kudorong pinggulku mengayuh ke depan. Tina pun menyambutnya dengan suka cita.

Gerakan batang kejantananku dan pergesekannya dengan ‘diri’ Tina sungguh sulit digambarkan dengan kata-kata. Kontraksi yang tadi telah reda mulai lagi mendera dan menambah nikmatnya pijatan pada batang kemaluanku. Tanganku menutup mulutnya saat Tina menjerit keras keenakan. Lama kutahan dengan mencoba mengalihkan perhatian kepada berbagai subyek non erotis.

Keringat kami yang berbaur seiring dengan pertautan tubuh kami yang seolah tak mau terpisahkan, gerakan pinggulnya yang aduhai, jeritan lirih tanpa arti yang hanya dapat dipahami oleh dua makhluk yang sedang memadu cinta, perjalanan yang panjang dan tak berujung.

Hingga desakan itu tak tertahankan lagi, kami berdua menjerit menahan nikmat. Tina jebol, deras keluar memancarkan cairan hangat bagi batang kemaluanku yang juga hendak menumpahkan setampuk benih. Denyutan liang kemaluannya yang ketat menjepit batang kemaluanku. Akh, aku tak tahan lagi.

Akhirnya aku jebol juga. Aku melenguh keras dan meremas pantat sekal Tina yang juga tengah dalam rintihan birahi. Berulang-ulang muncrat dan menyembur keluar tumpah ke dalam liang senggama sang gadis manis dan seksi itu. Nikmat luar biasa.

Lemas yang menyusul secara tiba-tiba mendera sekujur tubuhku hingga aku jatuh dan menimpa Tina yang segera merangkulku dan membisikkan kata-kata sayang.
“Enak sekali Reza…” 
Aku menjilati lehernya dan membiarkan batang kemaluanku tetap berbaring dan melemas di dalam kehangatan liang kewanitaannya.

Denyut-denyut kewanitaanya itu masih terasa, membelai kemaluanku dan menidurkannya dalam kelemasan. Kugigit dan kupagut puting payudara Tina dengan gemas. Tina membalas menjewer kupingku. 
“Reza sayang… kamu bandel banget deh… gimana kalo Rian tahu nanti Rez…” 
“Iya… dan gimana Vina-ku ya?” dalam hatiku.

Ironisnya lagi, kami selalu melakukannya berulang-ulang setiap ada kesempatan. Bagai tak ada esok, dengan berbagai gaya dan cara tak puas-puasnya. Di lantai, di dapur, di kasur, di bath tub, bahkan di kedinginan malam teras belakang paviliun sambil tertawa cekikikan. Rasa khawatir ketahuan yang diiringi kenikmatan tertentu memacu adrenalin semakin deras, yang segalanya membuat gairah.

Tak kusangka kami terkuras habis, lelah tak tertahan namun pagi telah menjelang dan aku harus bertemu dengan Ibu Rani. Aku bergerak melangkah k kamar mandi meskipun dengan lutut lemas seperti karet. Segera saja aku masuk ke dalam bath tub dan mengguyur sekujur tubuhku dengan air dingin. Lemas yang mendera perlahan terangkat seiring dengan bangkitnya kesadaranku.

Semenjak saat itu, Ibu Rani terlihat dingin sekali. Beliau kembali memangilku dengan anda, bukan Reza lagi seperti dulu. Aku serba salah, tidak sadarkah dia kalau aku pulang malam itu karena menghormati dan menyayanginya? Hingga dua hari menjelang sidang akhir, keadaan belum membaik, gambarku selesai namun belum mendapat persetujuan dari Bu Rani. Kuputuskan untuk berkunjung ke rumahnya, meski aku tak pasti apakah Pak Indra ada di sana atau tidak.

Hari itu mobilku dipinjam oleh teman dekatku, sementara siangnya hujan rintik turun perlahan. Ugh, memang aku ditakdirkan untuk gagal sidang kali ini. Bergegas kucegat angkot. Semakin dekatnya kawasan tempat tinggal beliau, semakin berdebar jantungku. Kucoba mengingat seluruh kejadian semalam saat aku dan Tina bercinta, untuk mengurangi keresahanku.

Aku turun dari angkot dalam derasnya hujan dan dengan sedikit berlari aku membuka gerbang dan menerobos ke dalam pekarangan. Basah sudah bajuku, kuyup dan bunga Aster yang kubawakan telah tak berbentuk lagi. Kubunyikan bel dan menanti.

Bagaimana kalau beliau keluar? bagaimana kalau Pak Indra ada di rumah? hatiku berkecamuk sampai aku tak menyadari kalau Ibu Rani telah berdiri di depanku. Senyumnya masih dingin, tapi ada rasa kasihan terbesit dari wajahnya. Aku hanya bisa menyodorkan bunga yang telah rusak itu. 
“Maafkan saya…” kataku

Tubuhku yang menggigil kedinginan seperti menggugah rasa iba hatinya dan dia pun tersenyum. 
“Sudah Reza, cepat masuk, ganti baju sana… entar kalo sakit kan Ibu juga yang repot.” 
Uuugh, leganya beban ini telah terangkat dari dadaku, dan aku menghambur masuk. 
“Maaf Bu, saya basah kuyup.” Beliau masuk ke dalam dan segera membawakan handuk untukku. 

“Sana ke kamar dan ganti baju gih, pake aja kaus-kaus Bapak.”
Kuberanikan diri, mendoyongkan tubuh dan mengecup keningnya, 
“Terima kasih banyak Bu…” Sang ibu sedikit terperangah dan kemudian menepis wajahku. 
“Sudah sana, masuk… ganti baju kamu.”

Dengan tersenyum aku masuk ke dalam dan mengeringkan tubuhku, dan mengganti baju. Segera aku keluar mencari Ibu Rani. Beliau sedang berada di dapur membuatkan secangkir teh panas untukku. Aku merangkulnya dari belakang. Dengan ketus beliau menepis tubuhku dan menjauh.
“Reza… kamu pikir kamu bisa seenaknya saja begitu.” Aku terdiam. 
“Saya minta maaf Bu, waktu itu saya pergi karena Reza tak sanggup Bu… Ibu, orang yang paling saya hormati dan sayangi, mungkin Reza butuh waktu, Bu…” sambil berkata demikian aku mendekatinya dan memegang pundak kanan beliau dan memberi sedikit pijatan lembut.

Beliau tergetar dan tampak sedikit melunak. Aku mendekat lagi, 
“Ibu mau maafin Reza?” tanyaku sambil perlahan mendekatkan wajahku ke wajahnya. 
“Tapi Rez…” Beliau kelihatan bingung, namun kecupan lembutku telah bersarang pada keningnya. 

Kurengkuh Rani dalam pelukanku dan kukecup dan kugigit-gigit bibir bawahnya yang merah merekah itu. Nafas Rani sedikit memburu dan bibirnya merekah terbuka. Semula sedikit pasif ciuman yang kuterima, kemudian lidahku menelusup ke dalam dan menyentuh giginya yang putih, mencari lidahnya.

Getar-getar yang dirasakannya memaksa Rani untuk memerima lidahku dan saling bertautlah lidah kami.
“Jangan di sini Rez, Tuti bisa datang kapan saja.” Kutebak Tuti adalah nama pembantu mereka. 
“Bapak?” 
“Ah biarkan saja dia”, kata dosen pujaanku itu. 
Ditariknya tanganku ke arah kamarnya yang mereka rancang berdua.

“Buu… Bapak di mana?” 
Wanita matang yang luar biasa cantik itu berbalik bertanya, 
“Kenapa, kamu takut? Pulang sana, kalau kamu takut.”

Ah, kutenangkan hatiku dan yakin dia juga tidak akan membiarkan ada masalah di rumah mereka. Jadi aku medahului Rani dan dalam satu gerakan tangan, kupangku bu Rani, kemudian kuciumi wajahnya dengan mesra, lehernya, dan sedikit belahan di dadanya. Menjelang dekat dengan tempat tidur, Rani kuturunkan dan aku mundur memandanginya seperti aku saat pertama kali. Semula Rani sedikit kikuk.

“Kenapa? Aku cantik kan?” Rani bergerak gemulai seolah sedang menari, cantik sekali.
Ia mengenakan daster panjang berwarna light cobalt yang menerawang. Kupastikan Rani tidak mengenakan apa-apa lagi di baliknya. Payudaranya bulat dan penuh terawat, pinggulnya selalu membuat para mahasiswi iri bergosip dan mahasiswa berdecak kagum.

Aku melangkah maju, dengan lembut kutarik ikatan di belakang punggungnya, hingga daster tersebut perlahan jatuh ke lantai dan menampilkan tubuh telanjang Rani yang menggairahkan. Tanpa tunggu lebih lama aku kembali melangkah ke depan dan kami berpagutan mesra.

Ciuman terdahsyat yang pernah kualami, sensasinya begitu memukau, lidahnya menerobos bibirku dan dengan penuh nafsu dan kubalas dengan melumat bibirnya. Rani melucuti pakaianku, sambil mengusap gumpalan otot pada dadaku yang cukup bidang dan perutku yang rata.

Kami berdua sekarang telanjangi. Ada sedikit ironi pada saat itu, dan kami berdua menyadarinya dan tersenyum kecil dan saling menatap mesra. Aku menggenggam kedua tangannya dan mengajaknya berdansa kecil, norak tapi romantis.

Rani menyandarkan kepalanya ke dadaku dan kami ber-slow dance tanpa pakaian. Batang kemaluanku berdiri dengan tegaknya, dan sesekali disentil oleh tangan lentik Rani. Dengan perutnya ia mendesak batang kemaluanku ke atas dan menempel mengarah ke atas, duh ngilu namun sensasional.

Ah, aku tak tahan lagi. Kudesak tubuh Rani ke arah pinggiran peraduan, kubaringkan punggungnya sementara kakinya menjuntai ke lantai. Aku berlulut di lantai dan mulai mencumbunya. Kutelusuri permukaan pahanya dengan lidahku, perlahan dari bawah hingga ke arah atas pahanya. Rani merintih kegelian. 
“Rez, it feel so good, aku pengen menjerit jadinya…” 

Saat menuju ke kewanitaannya yang berbulu rapi dan wangi, aku menggunakan tanganku menyibakkan labianya, aku menggigit klitorisnya yang tengah mendongak, dengan lembut sekali. 
“Aduuuh Rez, aku sampai sayang…”

Cairan kental putih meluncur deras keluar dari liang kewanitaaannya dan dengan segera aroma menyengat hidungku. Dengan hidungku aku mengelus-elus permukaan kewanitaannya. Rani menjerit tertahan. 
“Rezaaa… aduhh…” Rani sontak bangkit meraih dan meremas rambutku kemudian semakin menekannya ke dalam belahan dirinya yang sedang menggelegak.
Aku naik ke atas dan menenangkan kekasih dan dosenku itu. 
“Aduh Rez, Rani udah lama nggak banjir kayak gitu…”

Dengan manja ibu rani melumat bibirku dan menciumi seluruh permukaan wajahku sambil cekikikan. Aku sayang sekali sama dosenku yang satu ini. Kudekap erat Rani dalam pelukanku dan dibalasnya tak kalah gemasnya, sehingga seolah-olah kami satu. Aku ingin begini terus selamanya, mendekap wanita yang kusayangi ini sepanjang hayatku, tapi nuraniku berbisik bahwa aku tidak dapat melakukannya.

Akhirnya kuliahku telah usai dan nilai yang memuaskan telah kuraih, wisuda telah lama lewat, dan sekarang aku telah menjadi entrepeneur muda.

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Daftar Isi | Disclaimer
Copyright © 2013. Moncrotz - All Rights Reserved
Supported By Cewek Crot and Foto Hot
Proudly powered by Blogger