Home » » Cerita Dewasa Ratih Yang Nakal

Cerita Dewasa Ratih Yang Nakal

Written By Novita Retnaningtyas on Thursday, October 31, 2013 | 2:12 AM

Cerita Dewasa Ratih Yang Nakal - Nama saya Rudi. Aku kuliah di Universitas Negeri, semester 7. Sebagai salah satu syarat kelulusan dan penulisan skripsi, kami diharuskan untuk menjadi guru PKL ke SMP atau SMA. Dasar nasib, aku kebagian untuk mengajar di sebuah SMU swasta yang  murid-muridnya terkenal bengal dan sulit diajar.

Hari seninnya setelah mengurus surat-surat dari kampus, aku langsung ditugaskan untuk mengajar murid kelas XI. Aku kebagian 4 sesi di kelas pagi dan 2 sesi di kelas siang.

“Astaga, ini sekolah apaan? Gua ngomong ga ada yang dengerin, mana siswi-siswinya pake rok pendek semua!” kataku dalam hati saat pertama kali aku mengajar di kelas itu.

Besoknya aku kembali ke sekolah dengan perasaan cemas. Jangan-jangan aku salah pilih karir menjadi guru. Aku nggak berbakat mengajar, anak-anak tak ada yang mendengarkan waktu aku berbicara. Tapi ternyata ada satu hal yang membangkitkan semangatku.

Di sesi kelas sore ada siswi yang bernama Ratih. Kulitnya sawo matang, tingginya kira-kira 158 cm. Wajahnya tidak terlalu cantik, tapi manis kalau lagi senyum. Dan yang lebih penting, dia satu-satunya murid yang kelihatan antusias kalau aku lagi mengajar. Dalam benakku sempat terlintas hal yang tidak-tidak, namun pikiran itu kubuang jauh-jauh.


“Aku seorang guru. Aku akan menjaga integritas almamater dan profesiku” bisikku dalam hati. 

Tapi semakin hari kemolekan tubuh Ratih malah semakin menggodaku. Seringkali aku mengintip paha mulusnya dan terkadang terlihat CDnya yang berwarna putih. Apalagi aku tahu dia juga suka padaku. Kalau aku masuk kelas, teman-temannya pasti menggodanya.

Sampai suatu hari aku memutuskan untuk mengadakan ulangan pertama untuk anak-anak kelas XI. Lalu hal yang sangat menegejutkan pun terjadi. Waktu aku memeriksa lembar jawaban Ratih, ada tulisan, ”Pak Rudi ini nomer hp saya”.

Perasaanku campur aduk saat itu.
“Telfon gak yah” kataku dalam hati.
Kalau aku telfon, artinya aku sudah menjatuhkan martabat profesiku sebagai guru. Kalau aku tidak telfon, aku akan menyesal karena tugasku sebagai guru PKL hanya tinggal 2 minggu lagi.

Akhirnya kuberanikan diri untuk menelfon Ratih malam itu juga. Anehnya, waktu aku telfon, seolah-olah antara aku dan Ratih sudah seperti teman lama. Tidak ada batasan antara guru-murid. Yah, mungkin karena waktu itu juga umurku masih 22 tahun, sedangkan Ratih masih 17 tahun, jadi tidak terlalu jauh. Akhirnya kita janjian untuk jalan bareng hari sabtu sesudah dia selesai kelas olah raga. 

Hari sabtu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kita sengaja janjian bertemu di Mall butut tapi aman tidak akan dilihat orang. Waktu bertemu, dia masih mengenakan kaus olahraga SMA yang longgar dan rok SMA. Sehingga kalau menunduk, terlihat jelas payudaranya yang montok.

Darahku langsung mendidih melihat Ratih. Langsung kukeluarkan jurus-jurus penaklukku.
“Ratih, kita ke tempat kak Rudi aja yuk. Nonton VCD atau apalah. Soalnya ngga enak dilihat orang”.
Awalnya Ratih menolak karena awalnya dia mau mengajak makan dan nonton. Tapi karena kupaksa, lama-lama dia setuju juga. Aku girang setengah mati.
“Yes..berarti dia bisa dipake” batinku. 

Sesampainya di tempat kost-ku, awalnya kita cuma nonton VCD sambil ngobrol-ngobrol. Lama kelamaan, topik pembicaraan kita mulai mengarah ke masalah pacar dan sex. Karena terbawa suasana, entah siapa yang memulai, tiba-tiba kita sudah berciuman. Bibirku dan bibir Ratih berpagutan saling mengulum penuh nafsu. Wangi mulutnya sangat khas. Lalu dia mulai menjilat-jilat telinga dan leherku.
“Buset, kayanya udah ahli ni orang” batinku.

Karena nafsu sudah di ubun-ubun, aku mulai menyisipkan tanganku kedalam kaus olahraga Ratih dan kuremas-remas payudaranya. Nafas Ratih semakin memburu sewaktu kulepas kaus dan BHnya. Meskipun kulitnya sawo matang, putingnya berwarna coklat terang. Ukurannya tidak terlalu besar tapi sangat padat. 

Ratih membalas dan mulai membuka kaus kemejaku. Tangannya masuk kedalam celanaku dan mulai meremas-remas penisku. Tidak sampai 5 menit, kami berdua sudah telanjang bulat. Tampa disuruh, Ratih langsung menciumi penisku. Yang sangat membuatku kagum, dia meludahi seluruh penisku sampai benar-benar basah, mengocoknya, baru mulai menghisap dengan mulutnya.
“Edaaan” kataku dalam hati. Pasti dia sering main beginian. 

Saking enaknya, baru 3 menit dihisap aku sudah tidak tahan untuk keluar. Spermaku muncrat di ujung mulutnya Ratih.
“Yah, Ka Rudi, ko udah keluar?” katanya.
“Tenang aja, aku masih bisa kok” kataku.

Sekarang gantian aku yang menjilati pussynya. Dia menggelinjang keenakan waktu aku menghisap-hisap klitorisnya. Perlahan-lahan, penisku naek kembali. Tapi hal yang mengejutkan kemudian terjadi. Waktu aku mau menusuk pussynya dengan jari tengahku, dia menolak. Ternyata dia masih perawan! 

Aku masih duduk keheranan.
“Hah, kamu masih perawan?” kataku.
“Iya” timpanya.
“Kak Rudi kaget yah? kita petting aja yah..enak juga kok”. Ini pengalaman baru untukku.
Ternyata enak juga. Jadi posisiku duduk, penisku dilipat keatas dan dia duduk diatasku sambil menggesek-gesekan pussynya ke penisku. 

Setengah jam berlalu, dia sudah keluar berkali-kali, tapi penisku malah lecet.
“Ratih…kalo gini terus penisku sakit, kita udahan dulu aja yah”.
Melihat raut muka kecewaku, Ratih terlihat merasa bersalah.
“Duh maafin aku yah ka Rudi. Aku udah janji mau ngasih perawanku ke suamiku nanti. Tapi kalau kak Rudi mau, masukin aja ke belakang”.
Tanpa pikir panjang, karena sudah tanggung akupun menyetujuinya.

Aku mulai mengoleskan nivea man dari kepala sampai ujung penisku, dan tidak lupa anus Ratih aku tusuk-tusuk dengan jari tengahku. Setelah Ratih sudah merasa nyaman, dengan gaya doggy akupun mulai memasukkan penisku kedalam anusnya dengan perlahan. Untunglah barangku tidak terlalu besar, yah paling 12 cm. Ternyata sulit juga karena dia terkadang merasa kesakitan sehingga harus mulai dari awal lagi.

Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya penisku masuk ke anus Ratih. Sensasinya luar biasa. Anusnya sangat sempit dan rasanya seperti disedot-sedot. Akupun mulai menggerakan pantatku maju-mundur. Aku menyodomi Ratih sambil tanganku meremas-remas payudaranya dan mulutku menggigit-gigit lehernya. Ratih pun ternyata mengalami sensasi yang luar biasa, karena lenguhannya terdengar semakin keras.

Kemudian kita berganti posisi. Aku duduk disofa dan Ratih jongkok membelakangiku. Ini pemandangan yang luar biasa karena aku bisa leluasa memandangi pantatnya yang montok. Anus Ratih menggejot penisku dengan gerakan jongkok naik-turun. Genjotankupun aku percepat dan tidak lama kemudian spermaku berhamburan di dalam anus Ratih.

Semenjak hari itu, aku dan Ratih beberapa kali melakukan ritual anal sex sampai kemudian tugasku sebagai guru PKL di sekolahnya berakhir. Aku pernah melakukannya di WC guru, juga sehabis kelas olah raga. Aku juga pernah melakukannya lagi di WC sebuah mall di Bandung. Aku kehilangan kontak dengan Ratih semenjak aku ditugaskan di sebuah SMP di Ibukota, dan kemudian menikah dengan rekanku sesama guru. 

0 comments:

Post a Comment

 
Support : Daftar Isi | Disclaimer
Copyright © 2013. Moncrotz - All Rights Reserved
Supported By Cewek Crot and Foto Hot
Proudly powered by Blogger