Home » , , » Relokasi Harimau Sumatera Oleh Perusahaan Kontroversial

Relokasi Harimau Sumatera Oleh Perusahaan Kontroversial

Written By Novita Retnaningtyas on Saturday, February 16, 2013 | 12:51 AM


Minggu lalu, sebuah perusahaan kertas, Asia Pulp & Paper dan lembaga lingkungan hidup, Greenpeace, mengadakan relokasi untuk seekor Harimau Sumatra betina bernama Putri. Putri yang sebelumnya tinggal dalam kawasan hutan terancam keselamatannya akibat penebangan liar yang merusak habitatnya. Harimau berusia tujuh tahun ini akhirnya dipindahkan ke kawasan taman nasional di Sumatera, yaitu Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan.

Sebelum dilepas ke dalam kawasan taman nasional, Putri terlebih dahulu diperiksa kesehatannya oleh seorang dokter hewan dan dipasangkan alat GPS untuk memantau keberadaannya selama masa-masa pertamanya di habitatnya yang baru. Begitu semua prosedur selesai, Putri pun langsung dilepas dari kandang dan lari ke habitatnya. Namun walapun telah berada dalam kawasan hutan lindung, Putri harus tetap diawasi, hal ini mencegah ia pergi ke habitat lamanya yang telah rusak. GPS yang dipasangkan pada Putri memang bertujuan memantau setiap pergerakan Putri.

Usaha relokasi Harimau Sumatera ini merupakan usaha penyelamatan kekayaan fauna Indonesia yang semakin hari semakin terancam habitatnya dan kelangsungan hidupnya akibat kegiatan industri yang kini juga merambah kawasan hutan. Sebelumnya Putri ditemukan dalam keadaan kelaparan di sebuah kawasan hutan yang telah gundul dan terbakar. Para aktivis yang menemukannya menangkap Putri dan dengan kerja sama dari beberapa organisasi lingkungan hidup, kesehatan Putri terus dipantau dan usaha relokasi ini pun diadakan.

Uniknya dalam relokasi kali ini perusahaan kertas yang justru dituduh bertanggung jawab atas rusaknya habitat Putri, Asia Pulp & Paper, ikut bekerja sama dengan lembaga Greenpeace untuk menyelamatkan Putri. Sebelumnya Greenpeace memang dengan gigih berusaha membuktikan bahwa Asia Pulp & Paper dalam usaha industrinya telah merusak banyak hutan di Indonesia, hal ini menyebabkan banyak kliennya memutuskan hubungan kerja sama. Keikutsertaan perusahaan kertas ini terjadi setelah Greenpeace mengungkapkan fakta kelam bahwa usaha produksi perusahaan yang merusak sebuah kawasan hutan juga sebenarnya telah mengancam keselamatan harimau, karena harimau hanya punya waktu tujuh hari saja setelah habitatnya rusak, dan akhirnya tewas.

Asia Pulp & Paper yang merasa bertanggung jawab (dan mungkin merupakan usaha memperbaiki citra perusahaan) akhirnya memutuskan membantu relokasi Putri. Akan tetapi masih banyak perusahaan lainnya yang juga turut bertanggung jawab atas rusaknya habitat fauna Sumatera. Mayoritas penyebab rusaknya hutan Sumatera adalah akibat industri kertas yang membutuhkan bahan dasar kayu dan usaha kelapa sawit. Sejak tahun 1980, hutan Sumatera mulai mengalami kerusakan dan hingga kini kerusakannya semakin berlanjut dan bertambah parah.




0 comments:

Post a Comment

 
Support : Daftar Isi | Disclaimer
Copyright © 2013. Moncrotz - All Rights Reserved
Supported By Cewek Crot and Foto Hot
Proudly powered by Blogger